Senin, 22 September 2008

Habibie dan harga garam

Mau percaya atau tidak, inilah ungkapan petani garam di Bima Nusa Tenggara Barat. Selasa 16 September 2008 saya didaulat menghadiri silaturrahmi warga desa ba'dah sholat Ashar di mushallah yang mayoritas jama'ahnya petani garam. Seorang di antara mereka maju ke depan & mengungkapkan "jaman Presiden Habibie harga garam per sak (50 kg) Rp 80.000, tapi begitu Pa Habibie berhenti harga garam pun terus turun hingga hanya Rp 6.000 per sak saat ini".
Saya kelabakan menjelaskannya. Faktanya kita saban tahun masih mengimpor 1 juta ton garam dari Australia & India. Dan di Bekasi, kemarin saya membeli garam untuk kolam ikan koi saya hanya Rp 1.000 per liter.
Garam, mungkin termasuk salah satu ironi negeri bahari, Indonesia.
Bagaimana pendapat Anda? Atau ada di antara Pembaca yang budiman dapat menanyakan kepada Pa Habibie?

2 Komentar:

Pada 4 Juni 2009 pukul 06.39 , Blogger RAKYAT JELATA mengatakan...

artikel anda g mbois blass..mengenai hrga garam, itulah indonesia gak prnh mentingin ksjahteraan rakyatnya. makanya aq malas nyoblos . gak penting gtu lho my blog

 
Pada 3 Mei 2010 pukul 14.15 , Blogger banguncitranusa mengatakan...

pak negeri ini memang aneh ada yang tersedia melimpah di negeri dendiri kok import dari negara lain... makanya katanya negara bahari tapi yang termiskin didunia kata alm. megy.z adalah nelayan ..

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda